EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN
“Artikel
Opini Tentang Kesehatan Masyarakat Pesisir”
Oleh :
Sitti
Zahra Aulia Nazar
J1A1
17 336
Konsentrasi
Kesehatan Lingkungan
KONSENTRASI
KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN
MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
2019
Artikel
Opini Kesehatan Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir adalah
sekelompok warga yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup bersama dan
memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya di wilayah pesisir. Masyarakat
yang hidup di kota-kota atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara
sosial ekonomis sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut
(Prianto, 2005). Mendengar istilah masyarakat pesisir tentunya bukanlah sesuatu
hal yang cukup asing di telinga kita masing-masing. Melainkan, sudah sangat
sering kita dengar bahkan akrab di dekat kita.
Untuk daerah kota besar
yang mayoritas berada di Pulau Jawa, yang mana berfokus pada pusat perkotaan
sudah jarang di temukan daerah Kawasan pesisir yang masuk dalam kategori 3T
yakni tertinggal, terdepan dan terluar. Hal ini dikarenakan daerah Kawasan
pesisir tersebut telah dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah setempat
sebagai daerah pariwisata yang akan menambah pendapatan serta pemasukan daerah
tersebut. Hal ini berarti perlu adanya kesinambungan ataupun interaksi yang baik
serta seimbang terkait potensi alam suatu wilayah terhadap pembangunan daerah
tersebut. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan pembangunan guna
sebagai ajang promosi pariwisata suatu Kawasan pesisir. Langkah pertama dapat
dilakukan dengan melihat potensi sumber daya alam Kawasan pesisir tersebut lalu
membuat perencaanan yang kemudian akan dilanjutkan dengan pemanfaatan Kawasan pesisir
tersebut tanpa melupakan pemeliharaan dari Kawasan pesisir bakal obyek wisata.
Oleh karena itu, untuk
mendukung upaya ini diperlukan pengetahuan dasar agar dapat memahami terkait
hal pemanfaatan daerah Kawasan pesisir serta teknik penataan maupun pemeliharaanya.
Untuk era saat ini, dimana ada pepatah mengatakan dunia sudah berada di ujung
jari, yang menandakan kita dapat mengakses berita atau konten apapun dari
segala macam aspek baik itu bidang kesehatan, olahraga, politik, entertainment
dan lain sebagainya. Alangkah baiknya jika kita dapat menggunakan koneksi
teknologi yang serba mudah untuk membantu mempromosikan daerah obyek wisata
sebagai langkah pemanfaatan daerah Kawasan pesisir yang kedepannya diharapkan
dapat digunakan oleh pengambil keputusna/kebijakan untuk membuat terobosan dan
inovasi baru yang dapat menguntungkan berbagai pihak dan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat pesisir itu sendiri.
Perlu kita ketahui bersama,
bahwa kondisi sumber daya pesisir dan laut bersifat common property
yakni milik bersama. Kata kuncinya ialah kepemilikan, yaitu sumber daya yang terdapat
di Kawasan pesisir serta lautan tidak mempunyai pemilik. Tidak seperti
membangun rumah atau tempat usaha yang diperlukan dokumen IMB (Izin Mendirikan Bangunan),
hal ini terjadi pada pihak yang ingin mengambil sumber daya pesisir dan laut. Kondisi
ini akan membuat semua pihak saling bersaing agar dapat mengeksploitas sumber
daya yang ada sebanyak-banyaknya dengan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan
hal lainnya termasuk orang lain, dampak dari kondisi lingkungan itu sendiri
bahkan dampak bagi kesehatan masyarakat pesisir tersebut.
Menkes menjelaskan, upaya
Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dilakukan
melalui 8 kegiatan lintas Kementerian/Lembaga yang tertuang dalam Kepres
No.X/2011. Sementara itu, upaya yang dilakukan di bidang kesehatan adalah
meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya bagi masyarakat
nelayan. Kegiatan Puskesmas diarahkan pada upaya-upaya kesehatan
promotif-preventif dengan focal point keselamatan kerja dan disertai berbagai
upaya lain yang mencakup: Perbaikan gizi; Perbaikan sanitasi dasar dan
penyediaan air bersih; Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA); Penanggulangan
penyakit menular dan tidak menular, dan Pemberdayaan masyarakat.
Dengan melihat pemerintah
cukup menaruh perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan kesehatan di
wilayah Kawasan pesisir seharusnya sudah tidak ada lagi kesenjangan sosial yang
terjadi antara Kawasan pesisir antar provinsi, Kawasan pesisir antar pulau
bahkan Kawasan pesisir antar daerah. Dalam artian yang diperlukan ialah
pemerataan dalam upaya pemerintah meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Tetapi, kenyataan di
lapangan tidaklah seperti itu. Pengalaman ketika terdapat program dari fakultas
untuk melaksanakan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang disebar di beberapa Kawasan
pesisir di daerah Kota Kendari. Hasil yang saya dapatkan cukup miris, masih
sangat banyak masyarakat yang minim pengetahuan terkait kesehatan masyarakat
pesisir itu sendiri yakni meliputi kondisi sanitasi dasar. Adapun beberapa
permasalahan yang saya dapatkan, antara lain:
1.
Sumber air bersih dan air minum
Untuk
air minum kebanyakan masyarakat menggunakan sumur gali untuk dikonsumsi, serta
untuk keperluan mandi menggunakan air yang berasal dari laut yang cukup payau.
2.
Sarana pembuangan air limbah
Untuk
SPAL sendiri, mayoritas masyarakat memilih untuk tidak menggunakan SPAL, dan
lebih memilih untuk membuang air limbah langsung ke laut.
3.
Tempat pembuangan tinja
Untuk
tempat pembuangan tinja atau jamban, walaupun sudah cukup banyak masyarakat
yang menggunakan jamban jongkok tetapi masih saja terdapa beberapa masyarakat
yang tetap memilih jamban cemplung. Walaupun begitu, mayoritas masyarakat tidak
menggunakan septic tank yang memenuhi syarat baik masyarakat yang memiliki
jamban jongkok maupun jamban cemplung.
4.
Tempat pembuangan sampah
Untuk
tempat pembuangan sampah, sama halnya dengan SPAL kebanyakan masyarakat langsung
membuang sampah rumah tangga ke laut.
5.
Perumahan sehat
Dengan melihat
keempat poin diatas, tentunya sudah mendapat bayangan terkait perumahan sehat
yang terdapat di Kawasan pesisir yang saya jumpai. Ya, jawabannya ialah masih
sangat minim.
Kelima
poin diatas merupakan sedikit potret dari kondisi sanitasi dasar masyarakat
pesisir di lapangan, yang tentunya akan memengaruhi kesehatan dari masyarakat
pesisir itu sendiri. Terutama untuk beberapa kelompok usia rentan seperti
balita ataupun para manula. Masih dapat
dikatakan belum terjadi keseimbangan antara upaya dari pihak pemerintah
terhadap perkembangan masyarakat pesisir. Seperti halnya, alasan terkait
masyarakat yang lebih memilih membuang sampah di laut yakni tdak tersedianya tempat
pembuangan sampah sementara yang memadai dan berarti bahwa hal ini tidak
difasilitasi penuh oleh pemerintah. Dapat dibayangkan, bila tumpukan sampah
yang seharusnya telah dibuang dan diolah di tempat pembuangan akhir. Malahan,
harus menetap di Kawasan pesisir dan laut yang tidak menutup kemungkinan akan terdapat
vektor yang hinggap dan sigap menularkan berbagai macam penyakit ke masyarakat
pesisir.
Oleh
karena itu, menurut saya kesehatan masyarakat pesisir secara keseluruhan di
Negara Indonesia belumlah berjalan cukup baik. Serta, upaya yang dilakukan
pemerintah pun belum cukup merata. Kedepannya pemerintah perlunya lebih peka
terhadap fenomena sosial yang terjadi seperti ini dengan membuat inovasi yang
dipikirkan dapat berdampak baik dari segi ekonomi maupun Kesehatan masyarakat di
Kawasan pesisir. Misalnya dari segi kesehatan dengan meningkatkan upaya terkait
penambah fasilitas penunjang kesehatan. Hal ini dikarenakan ekonomi dan
kesehatan layaknya 2 mata uang yang tak terpisahkan, dan perlu ditingkatkan
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kawasan pesisir.