Wednesday, December 11, 2019


EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN
Artikel Opini Tentang Kesehatan Masyarakat Pesisir”

Oleh :
Sitti Zahra Aulia Nazar
J1A1 17 336
Konsentrasi Kesehatan Lingkungan



KONSENTRASI KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
2019

Artikel Opini Kesehatan Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir adalah sekelompok warga yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya di wilayah pesisir. Masyarakat yang hidup di kota-kota atau permukiman pesisir memiliki karakteristik secara sosial ekonomis sangat terkait dengan sumber perekonomian dari wilayah laut (Prianto, 2005). Mendengar istilah masyarakat pesisir tentunya bukanlah sesuatu hal yang cukup asing di telinga kita masing-masing. Melainkan, sudah sangat sering kita dengar bahkan akrab di dekat kita.
Untuk daerah kota besar yang mayoritas berada di Pulau Jawa, yang mana berfokus pada pusat perkotaan sudah jarang di temukan daerah Kawasan pesisir yang masuk dalam kategori 3T yakni tertinggal, terdepan dan terluar. Hal ini dikarenakan daerah Kawasan pesisir tersebut telah dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah setempat sebagai daerah pariwisata yang akan menambah pendapatan serta pemasukan daerah tersebut. Hal ini berarti perlu adanya kesinambungan ataupun interaksi yang baik serta seimbang terkait potensi alam suatu wilayah terhadap pembangunan daerah tersebut. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan pembangunan guna sebagai ajang promosi pariwisata suatu Kawasan pesisir. Langkah pertama dapat dilakukan dengan melihat potensi sumber daya alam Kawasan pesisir tersebut lalu membuat perencaanan yang kemudian akan dilanjutkan dengan pemanfaatan Kawasan pesisir tersebut tanpa melupakan pemeliharaan dari Kawasan pesisir bakal obyek wisata.
Oleh karena itu, untuk mendukung upaya ini diperlukan pengetahuan dasar agar dapat memahami terkait hal pemanfaatan daerah Kawasan pesisir serta teknik penataan maupun pemeliharaanya. Untuk era saat ini, dimana ada pepatah mengatakan dunia sudah berada di ujung jari, yang menandakan kita dapat mengakses berita atau konten apapun dari segala macam aspek baik itu bidang kesehatan, olahraga, politik, entertainment dan lain sebagainya. Alangkah baiknya jika kita dapat menggunakan koneksi teknologi yang serba mudah untuk membantu mempromosikan daerah obyek wisata sebagai langkah pemanfaatan daerah Kawasan pesisir yang kedepannya diharapkan dapat digunakan oleh pengambil keputusna/kebijakan untuk membuat terobosan dan inovasi baru yang dapat menguntungkan berbagai pihak dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir itu sendiri.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa kondisi sumber daya pesisir dan laut bersifat common property yakni milik bersama. Kata kuncinya ialah kepemilikan, yaitu sumber daya yang terdapat di Kawasan pesisir serta lautan tidak mempunyai pemilik. Tidak seperti membangun rumah atau tempat usaha yang diperlukan dokumen IMB (Izin Mendirikan Bangunan), hal ini terjadi pada pihak yang ingin mengambil sumber daya pesisir dan laut. Kondisi ini akan membuat semua pihak saling bersaing agar dapat mengeksploitas sumber daya yang ada sebanyak-banyaknya dengan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan hal lainnya termasuk orang lain, dampak dari kondisi lingkungan itu sendiri bahkan dampak bagi kesehatan masyarakat pesisir tersebut.
Menkes menjelaskan, upaya Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dilakukan melalui 8 kegiatan lintas Kementerian/Lembaga yang tertuang dalam Kepres No.X/2011. Sementara itu, upaya yang dilakukan di bidang kesehatan adalah meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya bagi masyarakat nelayan. Kegiatan Puskesmas diarahkan pada upaya-upaya kesehatan promotif-preventif dengan focal point keselamatan kerja dan disertai berbagai upaya lain yang mencakup: Perbaikan gizi; Perbaikan sanitasi dasar dan penyediaan air bersih; Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA); Penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, dan Pemberdayaan masyarakat.
Dengan melihat pemerintah cukup menaruh perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan kesehatan di wilayah Kawasan pesisir seharusnya sudah tidak ada lagi kesenjangan sosial yang terjadi antara Kawasan pesisir antar provinsi, Kawasan pesisir antar pulau bahkan Kawasan pesisir antar daerah. Dalam artian yang diperlukan ialah pemerataan dalam upaya pemerintah meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Tetapi, kenyataan di lapangan tidaklah seperti itu. Pengalaman ketika terdapat program dari fakultas untuk melaksanakan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang disebar di beberapa Kawasan pesisir di daerah Kota Kendari. Hasil yang saya dapatkan cukup miris, masih sangat banyak masyarakat yang minim pengetahuan terkait kesehatan masyarakat pesisir itu sendiri yakni meliputi kondisi sanitasi dasar. Adapun beberapa permasalahan yang saya dapatkan, antara lain:
1.      Sumber air bersih dan air minum
Untuk air minum kebanyakan masyarakat menggunakan sumur gali untuk dikonsumsi, serta untuk keperluan mandi menggunakan air yang berasal dari laut yang cukup payau.
2.      Sarana pembuangan air limbah
Untuk SPAL sendiri, mayoritas masyarakat memilih untuk tidak menggunakan SPAL, dan lebih memilih untuk membuang air limbah langsung ke laut.
3.      Tempat pembuangan tinja
Untuk tempat pembuangan tinja atau jamban, walaupun sudah cukup banyak masyarakat yang menggunakan jamban jongkok tetapi masih saja terdapa beberapa masyarakat yang tetap memilih jamban cemplung. Walaupun begitu, mayoritas masyarakat tidak menggunakan septic tank yang memenuhi syarat baik masyarakat yang memiliki jamban jongkok maupun jamban cemplung.
4.      Tempat pembuangan sampah
Untuk tempat pembuangan sampah, sama halnya dengan SPAL kebanyakan masyarakat langsung membuang sampah rumah tangga ke laut.
5.      Perumahan sehat
Dengan melihat keempat poin diatas, tentunya sudah mendapat bayangan terkait perumahan sehat yang terdapat di Kawasan pesisir yang saya jumpai. Ya, jawabannya ialah masih sangat minim.
            Kelima poin diatas merupakan sedikit potret dari kondisi sanitasi dasar masyarakat pesisir di lapangan, yang tentunya akan memengaruhi kesehatan dari masyarakat pesisir itu sendiri. Terutama untuk beberapa kelompok usia rentan seperti balita ataupun  para manula. Masih dapat dikatakan belum terjadi keseimbangan antara upaya dari pihak pemerintah terhadap perkembangan masyarakat pesisir. Seperti halnya, alasan terkait masyarakat yang lebih memilih membuang sampah di laut yakni tdak tersedianya tempat pembuangan sampah sementara yang memadai dan berarti bahwa hal ini tidak difasilitasi penuh oleh pemerintah. Dapat dibayangkan, bila tumpukan sampah yang seharusnya telah dibuang dan diolah di tempat pembuangan akhir. Malahan, harus menetap di Kawasan pesisir dan laut yang tidak menutup kemungkinan akan terdapat vektor yang hinggap dan sigap menularkan berbagai macam penyakit ke masyarakat pesisir.
            Oleh karena itu, menurut saya kesehatan masyarakat pesisir secara keseluruhan di Negara Indonesia belumlah berjalan cukup baik. Serta, upaya yang dilakukan pemerintah pun belum cukup merata. Kedepannya pemerintah perlunya lebih peka terhadap fenomena sosial yang terjadi seperti ini dengan membuat inovasi yang dipikirkan dapat berdampak baik dari segi ekonomi maupun Kesehatan masyarakat di Kawasan pesisir. Misalnya dari segi kesehatan dengan meningkatkan upaya terkait penambah fasilitas penunjang kesehatan. Hal ini dikarenakan ekonomi dan kesehatan layaknya 2 mata uang yang tak terpisahkan, dan perlu ditingkatkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kawasan pesisir.